Kode Pos

Lhokseumawe
Lhokseumawe adalah kota terbesar kedua di Distrik Khusus Aceh, di utara Sumatra, Indonesia. Kota ini mencakup area seluas 181.06 kilometer persegi, dan memiliki populasi 171.163 pada Sensus 2010; perkiraan resmi terbaru (seperti 2014) adalah 180.200. [4] Berada di antara Banda Aceh dan kota besar di selatan Medan, kota ini merupakan pusat regional penting yang penting bagi perekonomian Aceh.

Nama Lhokseumawe berasal dari kata “Lhok” dan “Seumawe”. “Lhok” berarti teluk, teluk, parit laut dan Lhokseumawe berarti air yang berputar-putar di laut lepas pantai Banda Sakti dan sekitarnya. Kota ini dulunya adalah bagian dari Kabupaten Aceh Utara. Kawasan ini terkait dengan kemunculan kerajaan Samudera Pasai sekitar abad ke-13, yang kemudian berada di bawah kedaulatan Kesultanan Aceh pada tahun 1511.

Era Pra Kolonial

Peta Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah pada tahun 1511. Kemudian, pada masa keemasannya, pada abad ke-17, wilayah dan pengaruhnya meluas sampai Satun di Thailand selatan, Johor di Semenanjung Melayu, dan Siak di tempat sekarang provinsi Riau. Seperti halnya sebagian besar negara pra-kolonial non-Jawa, kekuatan Aceh meluas keluar melalui laut daripada di pedalaman. Saat meluas ke pantai Sumatra, pesaing utamanya adalah Johor dan Portugis Malaka di sisi lain Selat Malaka. Ini adalah fokus perdagangan seaborne yang melihat Aceh mengandalkan impor beras dari Jawa utara daripada mengembangkan swasembada dalam produksi beras. Setelah pendudukan Portugis di Malaka pada tahun 1511, banyak pedagang Islam yang melewati Selat Malaka memindahkan perdagangan mereka ke Banda Aceh dan meningkatkan kekayaan para penguasa Aceh. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, pengaruh Aceh meluas ke sebagian besar wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya. Aceh bersekutu dengan Kekaisaran Ottoman dan Perusahaan Hindia Timur Belanda dalam perjuangan mereka melawan Portugis dan Kesultanan Johor. Kekuatan militer Aceh memudar secara bertahap setelahnya, dan Aceh menyerahkan wilayahnya di Pariaman di Sumatra ke Belanda pada abad ke 18.

Era Kolonial

Adegan jalanan di Lhoksuemawe pada masa penjajahan Belanda
Sebelum abad ke-20, negara ini diperintah oleh uleebalang Kutablang. Pada tahun 1903 setelah pejuang perlawanan melawan penjajah Belanda melemahkan Aceh, Aceh mulai menguasai. Lhokseumawe ditaklukkan daerah dan sejak saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur Van Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah calon pendidik Teuku Abdul Lhokseumawe yang berada di bawah Lhokseumawe dan asisten perwira atau bupati kabupaten. Pada dekade kedua abad ke-20, di antara seluruh daratan Aceh, sebuah pulau kecil sekitar 11 kmĀ² dipisahkan secara luas oleh Sungai Krueng Cunda. bangunan penuh Kereta Api Pemerintah, Militer, dan Transportasi oleh pemerintah Belanda. Pulau-pulau kecil dengan desa-desa di Keude Aceh, Kampung Jawa, Kuta blang, Mon Geudong, Teumpok Teungoh, Hagu Kampung, Uteuen bayi dan Ujong Blang seluruhnya baru 5.500 jamak dalam panggilan Lhokseumawe. Bangunan dengan bangunan mengisi lahan ini sampai kota tersebut menyadari pelabuhan embrio, pasar, stasiun kereta api dan kantor instansi pemerintah.

Kode Pos Desa

Sidebar